Pengangguran Masih Tinggi
Rabu, 16 Mei 2007, 11:06 WIB
Jakarta,
Tingkat pengangguran terbuka di Indonesia pada Februari 2007 masih mencapai 9,75% dari angkatan kerja atau 10,55 juta jiwa.
Data pengangguran tersebut sudah mengalami penurunan sebesar 384 ribu dibandingkan hasil survei tenaga kerja Badan Pusat Statistik (BPS) pada Agustus 2006. Tetapi menurut Kepala BPS Rusman Heriawan jumlah pengangguran tersebut dinilai masih tinggi. ”Memang jumlahnya turun, tapi jumlah pengangguran masih besar. Februari, pengangguran mencapai 10,55 juta, artinya pengangguran ada di mana-mana,” kata Rusman di Jakarta,kemarin.
Dia menjelaskan, masih tingginya tingkat pengangguran terbuka saat ini akan menyulitkan pemerintah untuk mencapai target penurunan jumlah pengangguran menjadi 5% pada 2009. ”Kecuali kalau pertumbuhan ekonominya kinclong terus ya bisa.Tapi kalau tidak, jangan berharap 5% akan bisa tercapai pada 2009,” kata Rusman. Berdasarkan data BPS, pada Februari 2007, jumlah angkatan kerja Indonesia mencapai 108,13 juta orang atau bertambah 1,74 juta orang dibanding situasi pada Agustus 2006.Tingkat pengangguran terbuka pada Februari mencapai 9,75% ini berarti turun dibanding Agustus 2006 yang mencapai 10,28%, atau turun 556 ribu orang dibanding Februari 2006 yang mencapai 11,10 juta orang (10,40%).
Jumlah pengangguran ini menjadi hal yang ironis, kata Rusman, karena masih berada di atas 10 juta.”Singapura saja jumlah penduduknya hanya 4 juta orang, berarti jumlah pengangguran kita dua kali lipat penduduk Singapura,” ujar dia. Situasi ketenagakerjaan pada Februari 2007, menurut Rusman, terlihat dari meningkatnya jumlah tenaga kerja pada seluruh sektor. Adapun yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah pada sektor perdagangan,industri,dan jasa kemasyarakatan. Dari sisi gender,jumlah tenaga kerja perempuan bertambah 2,12 juta orang.
”Penambahan terbesar terutama di sektor pertanian dan perdagangan, sedangkan jumlah pekerja laki-laki hanya bertambah 287 ribu orang,”kata dia. Namun,dia mengingatkan bahwa sektor yang paling kritis akan menambah pengangguran baru adalah pertanian. Dia beralasan, sektor pertanian bersifat musiman, yakni tergantung pada musim panen. Jika pemerintah tidak melakukan antisipasi,terutama pada saat paceklik, kata Rusman, jumlah pengangguran dipastikan bakal membengkak.
Karena itu, dia mengusulkan agar Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) dilakukan ketika musim paceklik.”PNPM harus diimplementasikan ketika pertanian paceklik. Karena potret referensi waktu itu sangat penting sehingga mungkin akan beda nanti (situasinya) pada Agustus. Atau boleh jadi tenaga kerja perempuan masih bertahan di pertanian atau melimpah di sektor lain,atau menganggur,” ujar Rusman.
Menko Optimistis
Di lain pihak,Menko Perekonomian Boediono optimistis hingga dua tahun mendatang jumlah pengangguran dapat tergerus secara bertahap dengan peningkatan laju pertumbuhan ekonomi. Meski begitu, untuk saat ini Menko mengakui jumlah pengangguran masih tinggi. ”Memang tingkat pengangguran kita masih tinggi,” kata Menko dalam keterangan pers tentang Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2008 di Gedung Bappenas.
Menko menjelaskan, percepatan laju ekonomi kuartal I 2007 yang mencapai 6%,telah meningkatkan kemampuan ekonomi nasional menyerap pengangguran. Sepanjang Februari 2005 hingga Februari 2007,telah terjadi penurunan pengangguran terbuka sebesar 300.000. ”Maka, dalam dua tahun terakhir telah tercipta 2,68 juta kesempatan kerja baru.Tambahan, terbesar terjadi dalam satu tahun terakhir (Februari 2006–Februari 2007),yaitu 2,38 juta,”kata dia. Boediono menjelaskan, upaya menggerus pengangguran dilakukan secara bertahap hingga 2009.
Dia memastikan, apabila target pertumbuhan ekonomi tahun ini 6,3% dan tahun depan 6,8% sampai 7% tercapai, lapangan kerja baru yang tercipta hingga 2009 akan lebih besar lagi dibanding periode 2005- –2006. ”Sehingga nanti stok yang menganggur itu akan turun lagi.(Kepastian) angkanya nanti,”kata dia. Dia menjelaskan, pemerintah terus berupaya menggenjot pertumbuhan ekonomi secara sektoral sebab penciptaan lapangan kerja berkorelasi positif dengan laju pertumbuhan sektor tersebut.
Sektor yang tumbuh lebih cepat, seperti sektor perdagangan atau industri, menciptakan lapangan kerja lebih besar. Dalam paparan tentang RKP 2008, Boediono menjelaskan bahwa berdasarkan sidang paripurna kabinet, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyepakati rancangan akhir RKP 2008.Tema kerja pemerintah tahun depan adalah ”Percepatan Pertumbuhan Ekonomi untuk Mengurangi Kemiskinan dan Pengangguran”. ”Jadi, anggaran pemerintah yang menyangkut hal itu akan kita maksimalkan, sementara yang tidak penambahannya akan kita batasi,”kata dia.
Dia menjelaskan, tahun depan anggaran pemerintah akan ”banting setir”, yakni fokus pada pembangunan infrastruktur sehingga dapat menopang target pertumbuhan ekonomi yang tinggi.Besarnya alokasi anggaran infrastruktur pada 2008 sekaligus diharapkan menciptakan lapangan kerja secara langsung.”Target pengangguran tahun depan sebesar 8–9%, dengan asumsi pertumbuhan ekonomi 6,3%.Tahun 2008 itu masih merupakan tahun yang baik bagi ekonomi. Kalau tahun 2009 sudah tahun politik, di antara kami (menteri ekonomi) sudah ada yang terlibat kampanye,”kata dia.
Dalam kesempatan yang sama, Meneg PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzetta menambahkan, penciptaan kesempatan kerja menjadi prioritas pertama RKP 2008 bersama peningkatan investasi dan ekspor. Dia mencontohkan proyek pemeliharaan 30.139 kilometer jalan nasional dan 47.500 meter jembatan oleh Departemen Pekerjaan Umum. Proyek-proyek itu diharapkan menciptakan lapangan kerja secara langsung.
Tebar Pesona?
Secara terpisah, anggota Komisi XI DPR Dradjad H Wibowo meragukan data pengangguran yang disampaikan BPS. Menurut dia, jika benar pengangguran turun selama satu tahun (Februari 2006–Februari 2007), berarti lapangan kerja yang tercipta mencapai 2,2 juta. Angka penurunan pengangguran tersebut tidak masuk akal,karena dengan tingkat pertumbuhan ekonomi 5,5% pada 2006 berarti elastisitas lapangan kerjanya sekitar 400 ribu per 1% pertumbuhan. ”Itu adalah angka elastisitas yang luar biasa tinggi,”kata Dradjad.
Padahal, menurut Dradjad, angka tersebut hanya bisa terpenuhi kalau pertumbuhan ekonomi benar-benar didorong oleh sektor padat karya (labor intensive) mengingat secara faktual,pertumbuhan saat ini terkonsentrasi pada sektor konsumsi, sektor nonperdagangan, dan sektor-sektor padat modal. ”Jadi tidak sinkron dengan angka yang disajikan BPS. Sektor pertanian yang tumbuh tinggi bisa saja padat karya,tapi yang tumbuh kan perkebunan yang didominasi perkebunan besar. Adapun sektor pertanian sangat padat karya kalau yang tumbuh adalah pertanian tanaman pangan,termasuk beras,” ujar anggota Fraksi PAN itu.
Dia menegaskan, kondisi riil di masyarakat tidak sesuai dengan BPS yang menyatakan bahwa jumlah pengangguran berkurang.”Pertanyaannya, apakah BPS sudah terlibat politik tebar pesona juga?” kata Dradjad. Hal senada disampaikan Direktur Inter-CAFÉ IPB Iman Sugema. Dia sangat sulit mempercayai jumlah pengangguran mengalami penurunan. Baginya, kesimpulan BPS bahwa penyumbang lapangan kerja terbesar adalah sektor industri dan perdagangan itu lemah. Sebab, menurutnya pertumbuhan kedua sektor tersebut relatif rendah.
Sementara itu,Ekonom Kepala PT Bank Negara Indonesia (BNI) Tony Prasetiantono mengatakan, penurunan jumlah pengangguran sebesar 384 ribu orang sudah lumayan dengan kondisi perekonomian saat ini. Namun, untuk mencapai tingkat pengangguran terbuka 5% pada 2009 akan sulit. ”Paling banter 8% karena industri kita juga kian kurang insentif modal,” ujar dia.
[SINDO]
Minggu, 16 Agustus 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar